Indah Indriati

I work hard. I dream big. I love hard. I'm all in.

    Bisnis tanpa risiko ibarat seperti memasak tanpa garam, atau hidup tanpa pasangan. Risiko hanyalah kemungkinan, dan tanpa adanya kemungkinan, maka tidak ada bisnis. Oleh karenanya perlu dipahami dan diterima segala faktor resiko yang akan timbul.
    Namun, tidak tertutup kemungkinan untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan faktor resiko dalam bisnis dengan manajemen resiko yang baik dan terencana. Kita harus mengasumsikan bahwa setiap bisnis memiliki resiko, sehingga kita dapat mengelola untuk mengurangi ke titik hingga kita dapat menghilangkannya sama sekali.
    Berikut ini adalah beberapa macam resiko bisnis. Anda akan mendapatkan sebuah penjelasan tentang risiko strategik, risiko kepatuhan, risiko operasional, risiko finansial, risiko reputasional, sehingga anda mengerti apa maksudnya, dan bagaimana mereka dapat mempengaruhi bisnis anda.

1. Risiko Strategik
    Setiap orang tahu bahwa sebuah bisnis yang sukses memerlukan sebuah rencana bisnis yang komprehensif dan dipikirkan dengan matang. Namun itu juga sebuah fakta hidup bahwa banyak hal berubah, dan rencana terbaik anda terkadang terlihat begitu kuno dengan sangat cepat.
    Inilah risiko strategik. Itu adalah sebuah risiko dimana strategi perusahaan anda menjadi kurang efektif dan perusahaan anda berusaha keras untuk mencapai goal sebagai sebuah hasil. Itu dapat disebabkan karena perubahan teknologi, pesaing kuat baru yang memasuki pasar, perubahan dalam permintaan pelanggan, peningkatan harga bahan baku, atau perubahan skala besar lainnya.
    Sejarah diisi dengan contoh - contoh perusahaan yang menghadapi risiko strategik. Beberapa dapat beradaptasi dengan baik, sementara yang lainnya gagal.

2. Risiko Kepatuhan
    Apakah anda mematuhi seluruh hukum dan regulasi yang berhubungan dengan bisnis anda? Tentu saja anda harus seperti itu. Namun hukum berganti sepanjang waktu, dan selalu ada risiko bahwa anda akan menghadapi regulasi tambahan di masa mendatang. Dan saat bisnis anda berkembang, anda mungkin akan mendapatkan diri anda harus mematuhi aturan baru yang tidak pernah anda terapkan sebelumnya.

3. Risiko Operasional
    Sejauh ini, kita telah melihat risiko muncul dari kejadian eksternal. Namun perusahaan anda juga adalah sumber risiko.
    Risiko operasional mengacu pada sebuah kegagalan yang tidak diharapkan dalam operasi harian perusahaan. Itu dapat saja berupa kegagalan teknis, seperti server yang sudah usang, atau itu dapat juga disebabkan oleh orang atau proses anda.

4. Risiko Finansial
    Kebanyakan kategori risiko memiliki dampak finansial, dalam istilah biaya ekstra atau kerugian pemasukan. Namun kategori risiko finansial mengacu secara khusus pada arus masuk dan keluar uang dalam bisnis anda, dan kemungkinan akan kerugian finansial.
    Sebagai contoh, mari katakan bahwa sebuah porsi besar pemasukan anda berasal dari sebuah klien besar tunggal, dan anda memperpanjang 60 hari kredit kepada klien tersebut. Dalam kasus tersebut, anda memiliki sebuah risiko finansial yang signifikan. Jika pelanggan tersebut tidak dapat membayar, atau menunda pembayaran untuk alasan apapun juga, maka bisnis anda dalam masalah besar.
    Punya hutang yang banyak juga meningkatkan risiko finansial, khususnya jika kebanyakan adalah hutang jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu dekat. Dan bagaimana jika suku bunga tiba - tiba naik, dan bukannya membayar 8% pinjaman, anda sekarang membayar 15%? Itu adalah biaya ekstra yang besar bagi bisnis anda, sehingga itu dihitung sebagai risiko finansial.

5. Risiko Reputasional
    Ada banyak jenis bisnis yang berbeda, namun mereka semua punya satu hal yang sama: tidak peduli industri yang mana yang anda geluti, reputasi anda adalah segalanya.
    Jika reputasi anda rusak, anda akan melihat kerugian dalam waktu cepat, seperti pelanggan yang mulai ragu berbisnis dengan anda. Namun ada efek lainnya juga. Pekerja anda akan menurun moralnya bahkan memutuskan untuk pergi. Anda mungkin akan kesulitan untuk mencari pengganti yang bagus, dimana calon kandidat sudah mendengar reputasi jelek anda dan tidak ingin bergabung dengan usaha anda. Pemasok mungkin mulai menawarkan anda kondisi yang kurang menyenangkan. Pengiklan, sponsor atau partner lainnya mungkin memutuskan bahwa mereka tidak lagi ingin berasosiasi dengan anda.
    Risiko reputasional dapat menimbulkan pelanggaran hukum mayor, penarikan produk yang memalukan, publikasi negatif tentang anda atau staf anda, atau kritik keras tentang produk atau layanan anda. Dan di masa sekarang ini, tidak diperlukan kejadian besar untuk menyebabkan kerusakan reputasi; itu juga dapat menjadi kematian perlahan saat ribuan tweet review produk online negatif.



Reference:
http://business.tutsplus.com/id/tutorials/the-main-types-of-business-risk--cms-22693
    Anda ingin menjadi wirausahawan? Banyak orang yang berpikir berulang kali untuk memutuskan menjadi seorang wirausahawan. Bagaimana tidak, Anda harus membangun sistem, memikirkan pengadaan produk yang hendak dijual, membangun sistem pemasaran, mengurusi banyak hal lainnya yang memusingkan, tapi masih harus dihadapkan dengan resiko merugi. Bandingkan dengan seorang pegawai atau karyawan yang pekerjaannya sudah baku sesuai dengan SOP (Standard Operation Procedure) perusahaan, dan pastinya mendapatkan penghasilan tetap serta fasilitas lainnya.
    Perlu kita sadari bahwa ketika memutuskan menjadi seorang wirausahawan, maka Anda sudah maju satu langkah lebih baik dibandingkan mereka yang tidak punya niat untuk memiliki bisnis sendiri. Wirausaha berasal dari kata wira yang berarti manusia unggul, berani dan teladan, sedangkan usaha berarti berbuat sesuatu.


Peluang Wirausaha Skala Kecil
    Peluang wirausaha skala kecil mungkin identik dengan usaha rumahan. Walaupun Anda menjalankan bisnis skala kecil bukan berarti potensi keuntungannya juga kecil. Ada banyak sekali usaha kecil menengah (UKM) yang menghasilkan keuntungan yang besar, bahkan akhirnya menjadi sebuah usaha dalam skala nasional. Namun yang harus diperhatikan adalah menyesuaikan jenis usaha yang akan dijalankan dengan bidang dan minat yang Anda kuasai, setidaknya Anda sedikit banyak mengetahui tentang bisnis yang akan dijalankan. Akan lebih baik lagi bila kita sebelumnya punya pengalaman dalam berbisnis.
    Dunia perniagaan juga termasuk wirausaha skala kecil yang bisa Anda jalankan, misalnya menjual sembako, hasil bumi. Opsi lain jika memang Anda belum memiliki ide sendiri adalah menjadi wirausahawan dengan berbisnis waralaba. Anda tetap berstatus wirausahawan meski waralaba memiliki ikatan kemitraan. Dengan bisnis waralaba Anda bisa memperoleh produk yang sudah cukup dikenal masyarakat, suplai bahan yang terjamin serta sistem yang juga sudah ditentukan.

Peluang Wirausaha Skala Besar
    Untuk wirausaha skala besar memang lebih banyak dijalankan bagi orang yang memiliki modal besar. Ada banyak contoh usaha dalam skala besar seperti; membangun industry (baik itu untuk produksi barang berbahan metal), barang konveksi, tekstil, plastik, dan lain-lain.
    Bisnis di bidang lain jika modal mencukupi, Anda bisa membuka usaha besar seperti SPBU. Bisnis ini sangat potensial mengingat semakin banyaknya kendaraan dan perlatan bermesin yang membutuhkan bahan bakar. Jadi, bisnis SPBU memang akan selalu ramai konsumennya.
    Di sektor lain ada bisnis di dunia pariwisata, misalnya menyediakan jasa (kontraktor) pembuatan kolam renang untuk umum, penginapan villa, hotel dan lain-lain. Anda juga bisa membuka bisnis di bidang olahraga seperti membuka lapangan futsal, pusat kebugaran (fitness/gym), menjual makanan suplemen, dan lainnya.
    Satu lagi contoh bisnis besar yang cukup menggiurkan bagi pemilik modal besar adalah bisnis property. Pembangunan apartement, perumahan dan pusat perbelanjaan saat ini sedang memasuki fase cerah di Indonesia.




Reference:
https://www.maxmanroe.com/melihat-peluang-wirausaha-skala-besar-dan-kecil.html
1.    Aspek Lingkungan / Environmental Aspects
    Yaitu merupakan aspek lingkungan yang akan dihadapi seseorang atau seorang wirausaha ketika ia akan mengambil sebuah keputusan perusahaan tersebut. Jika kita memilih lingkungan yang salah, itu akan berpengaruh pula pada usaha kita.

2.    Aspek Membuat Keputusan / Aspects of Decision
    Yaitu orang atau kelompok yang akan mengambil keputusan dalam menjalankan usahanya yang berkelanjutan. Tentulah kita juga harus selektif dalam memilih sekelompok orang yang membuat keputusan ini.

3.    Orientasi dalam Mengambil Keputusan / Orientation decisions
    Dalam mengambil sebuah keputusan seorang wirausaha harus mempunyai sikap terbuka dalam menerima masukan ide, gagasan, dan saran yang datang dari luar yang mempunyai sifat membangun dalam menjalankan operasi perusahaannya tersebut.

4.    Tujuan yang Harus Dicapai/ Goals to be Achieved
    Di dalam menentukan dan pemilihan alternative pada pengambilan keputusan sangatlah mendukung pada tujuan yang hendak dicapai nantinya.

5.    Alternative yang Relevan/ Alternative Relevant
    Suatu pemilihan alternative pilihlah alternative tersebut yang sangat relevan mungkin dengan memperhatikan kemampuan yang dimiliki oleh diri sendiri.

6.    Peringkat Alternative/ Ranked Alternate
    Sebuah alternative yang tersedia dan sudah dipilih harus disusun dengan sistematis dan penuh perhitungan.

    Jika kita ingin memiliki sebuah usaha yang sukses dan terus berkelanjutan, tentu kita akan memikirkan dengan matang apa yang harus diperhatikan. Enam aspek yang harus diperhatikan dalam pengambilan keputusan tersebut wajib dipenuhi oleh seorang wirausaha yang hendak melakukan serta menetapkan sebuah keputusan untuk jalannya operasi perusahaanya sekarang dan nanti pada waktu yang akan datang.




Reference:
http://laksito-minggir.blogspot.co.id/2016/01/aspek-dan-faktor-yang-harus.html
Rindu...
Rindu bukan hanya tentang gejolak rasa yang menggebu.
Tetapi ini tentang dua insan yang tak saling bertemu,
Menyapu...
Maupun bertatap malu...

Rindu...
Malu mengintip tapi mau.
Malu berbisik tapi sendu.
Malu bersuara tapi syahdu.

Ah rindu...
Menenggelamkanku dalam perasaan malu, cemburu, biru.
Mengunggah rasa yang teramat pilu.
Merindukan seseorang yang tak bisa bertemu,
Bertamu...
Bercumbu...

Rindu...

                                                                 2nd June'16
                                                                 by : Indah Indriati
Seiring perkembangan zaman, Kewirausahaan pun ikut berkembang. Maka lahirnya berbagai macam teori kewirausahaan baru dari sebelumnya. Dua diantaranya adalah sebagai berikut :

1.Neo Klasik
    Teori ini memandang perusahaan sebagai sebuah istilah teknologis, dimana manajemen (individu-individu) hanya mengetahui biaya dan penerimaan perusahaan dan sekedar melakukan kalkulasi matematis untuk menentukan nilai optimal dari variabel keputusan. Jadi pendekatan neoklasik tidak cukup untuk menjelaskan tentang isu-isu mengenai perusahaan. Dalam teori ini kemandirian sangat tidak terlihat, karena ini memang pada masa lampau dimana belum begitu urgen masalah kemandirian, namun cukup bisa menjadi teori awal untuk melahirkan teori-teori berikutnya.
2. Kirzerian Entrepreneur
    Dalam teori Kirzer menyoroti tentang kinerja manusia, keuletannya, keseriusanya, kesungguhannya, untuk swa(mandiri), dalam berusaha, sehingga maju mundurnya suatu usaha tergantung pada upaya dan keuletan sang pengusaha. Dari berbagai disiplin ilmu, lahirlah teori kewirausahaan yang dipandang dari sudut pandang mereka masing-masing, Teori ekonomi memandang bahwa lahirnya wirausaha disebabkan karena adanya peluang, dan ketidakpastian masa depanlah yang akan melahirkan peluang untuk dimaksimalkan, hal ini berkaitan dengan keberanian mengambil peluang, berspekulasi, menata organisasi, dan melahirkan berbagai macam inovasi. Teori Sosiologi lebih mempelajari tentang, asal-usul budaya dan nilai-nilai sosial disuatu masyarakat, yang akan berdampak pada kemampuanya menanggapi peluang usaha dan mengolah usaha, sebagai contoh orang etnis cina dan padang dikenal sebagai orang yang ulet berusaha, maka fakta dilapangan menunjukkan, bahwa banyak sekali orang cina dan padang yang meraih kesuksesan dalam berwirausaha. Selanjutnya teori psikologi, menurut saya teori ini lebih menekankan pada motif individu yang melatarbelakangi dirinya untuk berwirausaha, apabila sejak kecil ditanamkan untuk berprestasi, maka lebih besar kemungkinan seorang individu lebih berani dalam menanggapi peluang usaha yang diperolehnya. Yang terakhir adalah teori perilaku, bagaimana seorang wirausahawan harus memiliki kecakapan dalam mengorganisasikan suatu usaha, memanaje keuangan dan hal-hal terkait, membangun jaringan, dan memasarkan produk, dibutuhkan pribadi yang supel dan pandai bergaul untuk memajukan suatu usaha.

Sumber
http://www.kompasiana.com/www.habibamin.blogspot.com/pengertian-tujuan-dan-teori-kewirausahaan-materi-kuliah_550e5459813311862cbc625d
    Suatu kegiatan bisnis pasti melibatkan banyak pihak yang memiliki berbagai kepentingan yang berbeda, seperti para investor selaku pemrakarsa, bank selaku pemberi kredit, dan pemerintah yang memberikan fasilitas tata peraturan hukum dan perundang-undangan. Investor berkepentingan untuk mengetahui tingkat keuntungan dari investasi, bank berkepentingan untuk mengetahui tingkat keamanan kredit yang diberikan dan kelancaran pengembaliannya, pemerintah lebih menitik-beratkan manfaat dari investasi tersebut secara makro baik bagi perekonomian, pemerataan kesempatan kerja, dan lain-lain.
    Mengingat bahwa kondisi yang akan datang dipenuhi dengan ketidakpastian, maka diperlukan pertimbangan-pertimbangan tertentu di dalam memulai suatu bisnis, dimana dasar dari pertimbangan-pertimbangan tersebut dapat diperoleh melalui suatu studi terhadap berbagai aspek mengenai kelayakan suatu bisnis yang akan dijalankan, sehingga hasil daripada studi tersebut digunakan untuk memutuskan apakah sebaiknya proyek atau bisnis layak dikerjakan atau ditunda atau bahkan dibatalkan. Hal tersebut diatas adalah menunjukan bahwa dalam studi kelayakan akan melibatkan banyak tim dari berbagai ahli yang sesuai dengan bidang atau aspek masing-masing seperti ekonomi, hukum, psikolog, akuntan, perekayasa teknologi dan lain sebagainya.
A. Pengertian Studi Kelayakan Bisnis
    Studi Kelayakan Bisnis (SKB) merupakan sebuah upaya penelitian mengenai layak atau tidaknya sebuah usaha bisnis didirikan dan dijalankan dengan baik untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari aspek finansial, penyerapan tenaga kerja, pemanfaatan sumber daya, penghematan angka devisa serta adanya peluang usaha.
    Studi kelayakan bisnis dilakukan sebagai upaya untuk memperoleh data kelayakan sebuah usaha bisnis mampu dijalankan dengan baik atau tidaknya.
    Studi kelayakan bisnis menyangkut banyak aspek diantaranya adalah aspek hukum, sosial, ekonomi, budaya, pasar dan pemasaran, aspek teknis dan teknologi, manajemen, keuangan dan sebagainya. Terpenuhinya dengan baik semua aspek yang ada akan membuat kepercayaan banyak pihak di dalam kelangsungan bisnis usaha tersebut dapat mendukung keberhasilan sebuah bisnis usaha yang dijalankan.
B. Aspek dalam Studi Kelayakan Bisnis
    1. Aspek hukum
        Menyangkut semua legalitas rencana bisnis yang akan kita laksanakan yang meliputi ketentuan           hukum yang berlaku diantaranya :
          * Izin lokasi
          * Akte pendirian perusahaan dari notaris setempat PT/CV atau berbentuk badan hukum lain.
          * Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)
          * Surat tanda daftar perusahaan
          * Surat izin tempat usaha dari pemda setempat
           *Surat tanda rekanan dari pemda setempat
           * SIUP setempat
    2. Aspek sosial ekonomi dan budaya.
        Menyangkut dampak yang diberikan kepada masyarakat sekitar ,  karena adanya suatu kegiatan           usaha tersebut, diantaranya:
        * Dari sisi budaya, apa dampak keberadaan bisnis kita terhadap kehidupan masyarakat kebiasaan            adat setempat, dan lain-lain.
        * Dari sudut ekonomi, seperti seberapa besar tingkat pendapatan per kapita penduduk, apakah p              proyek dapat mengubah atau justru mengurangi income per capita penduduk setempat pendapatan nasional atau upah rata-rata tenaga kerja setempat atau UMR.
         * Dan dari segi sosial, apakah dengan adanya bisnis kita, menjadi semakin ramai, lalu lintas     semakin lancar, adanya jalur komunikasi, penerangan listrik dan lainnya, pendidikan masyarakat setempat dan untuk mendapatkan itu semua adalah dengan wawancara, kuesioner, dokumen, dan lain-lain. Untuk melihat apakah suatu proyek layak atau tidak dilakukan dengan membandingkan keinginan investor atau pihak yang terkait dengan sumber data yang terkumpul.
3. Aspek pasar dan pemasaran.

menyangkut apakah ada peluang pasar untuk produk yang akan dihasilkan oleh kegiatan usaha yang dilakukan, dapat dilihat dengan hal-hal berikut :
Potensi pasar
Jumlah konsumen potensial, konsumen yang mempunyai keinginan atau hasrat untuk membeli.
Tentang perkembangan atau pertumbuhan penduduk
Daya beli, kemampuan konsumen dalam rangka membeli barang mencakup tentang perilaku, kebiasaan, preferensi konsumen, kecenderungan permintaan masa lalu, dan lain-lain.
Pemasaran, menyangkut tentang starategi yang digunakan untuk dapat meraih sebagian pasar potensial atau pelung pasar atau seberapa besar pengaruh strategi tersebut dalam meraih besarnya market share.
4. Aspek teknis dan teknologi .
Menyangkut pemilihan lokasi, alat-alat, yang sesuai dengan hasil yang diinginkan, lay out, serta pemilihan teknologi yang sesuai.
5. Aspek manajemen .
Menyangkut pembangunan serta operasional.
6. Aspek keuangan
Menyangkut sumber dana yang akan diperoleh serta proyeksi pengembaliannya dengan tingkat biaya modal serta sumber dana yang bersangkutan.
Tahapan dalam Studi Kelayakan Bisnis

1.    Penemuan Ide
Agar dapat menghasilkan ide proyek yang dapat menghasilak produk laku untuk dijual dan menguntungkan diperlukan penelitian yang terorganisasi dengan baik serta dukungan sumber daya yang memadai. Jika ide proyek lebih dari satu, dipilih dengan memperhatikan:
•    ide proyek sesuai dengan kata hatinya
•    pengambil keputusan mampu melibatkan diri dalam hal-hal yang sifatnya teknis
•    keyakinan akan kemampuan proyek menghasilkan laba.

2.    Tahap Penelitian
Setelah ide proyek terpilih, dilakukan penelitian yang lebih mendalam dengan metode ilmiah:
•    mengumpulkan data
•    mengolah data
•    menganalisis dan menginterpretasikan hasil pengolahan data
•    menyimpulkan hasil
•    membuat laporan hasil

3.   Tahap Evaluasi.
Evaluasi yaitu membandingkan sesuatu dengan satu atau lebih standar atau kriteria yang bersifat kuantitatif atau kualitatif. Ada 3 macam evaluasi:
•    mengevaluasi usaha proyek yang akan didirikan
•    mengevaluasi proyek yang akan dibangun
•    mengevaluasi bisnis yang sudah dioperasionalkan secara rutin
Dalam evaluasi bisnis yang akan dibandingkan adalah seluruh ongkos yang akan ditimbulkan oleh usulan bisnis serta manfaat atau benefit yang akan diperkirakan akan diperoleh.

4.   Tahap Pengurutan Usulan yang Layak
Jika terdapat lebih dari satu usulan rencana bisnis yang dianggap layak, perlu dilakukan pemilihan rencana bisnis yang mempunyai skor tertinggi jika dibanding usulan lain berdasar kriteria penilaian yang telah ditentukan.

5.   Tahap Rencana Pelaksanaan
Setelah rencana bisnis dipilih perlu dibuat rencana kerja pelaksanaan pembangunan proyek. Mulai dari penentuan jenis pekerjaan, jumlah dan kualifikasi tenaga perencana, ketersediaan dana dan sumber daya lain serta kesiapan manajemen.

6.   Tahap Pelaksanaan
Dalam realisasi pembangunan proyek diperlukan manajemen proyek. Setelah proyek selesai dikerjakan tahap selanjutnya adalah melaksanakan operasional bisnis secara rutin. Agar selalu bekerja secaa efektif dan efisien dalam rangka meningkatkan laba perusahaan, dalam operasional perlu kajian-kajian untuk mengevaluasi bisnis dari fungsi keuangan, pemasaran, produksi dan operasi.
da banyak pihak yang berkepentingan terhadap upaya studi kelayakan bisnis tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Pelaku bisnis dan para investor
Pihak pelaku atau pemilik bisnis dan pihak investor memiliki kepentingan terhadap studi kelayakan bisnis khususnya sebagai jaminan bahwa akan ada kemungkinan pemasukan profit yang besar melalui sebuah usaha studi kelayakan bisnis yang sudah dijalankan. Kepentingan utamanya tak lain bagaimana modal bisa dikembalikan dengan segera serta memperoleh keuntungan yang besar dari sebuah usaha yang dijalankan.
2. Pihak kreditur
Pihak kreditur atau pemberi kredit yang biasanya dijalankan pihak perbankan juga memiliki kepentingan dalam upaya studi kelayakan bisnis tersebut, yakni kepentingan akan jaminan keamanan dan kelancaran pengembalian modal yang dilakukan dengan cara kredit oleh para pelaku bisnis.
Kepercayaan dari pihak kreditur terhadap pengembalian dana salah satunya dipengaruhi dari adanya studi kelayakan bisnis tersebut.
3. Pihak pemerintah
Studi kelayakan bisnis juga sangat dibutuhkan oleh pihak pemerintah terhadap sebuah usaha bisnis yang dijalankan. Beberapa kepentingan pemerintah terkait adanya upaya tersebut adalah bagaimana peluang kerja akan muncul dengan adanya sebuah perusahaan baru yang muncul, upaya penghematan devisa serta pendapatan dari masyarakat yang diharapkan mampu meningkat dengan baik.
4. Pihak masyarakat
Masyarakat juga memiliki kepentingan yang cukup besar terhadap studi kelayakan bisnis yang ada pada sebuah perusahaan. Diantara kepentingan masyarakat yang paling utama adalah di bidang ekonomi, bagaimana kehadiran sebuah usaha bisnis mampu berdampak positif bagi kondisi ekonomi masyarakat sekitar, misalnya melalui penerimaan tenaga kerja. Kepentingan lingkungan juga perlu diperhatikan, layak tidaknya, aman tidaknya sebuah usaha bisnis yang dijalankan terhadap kondisi masyarakat sekitar.
Manfaat studi kelayakan bisnis

1.  Pihak Investor
Sebelum menanamkan modalnya di perusahaan yang akan dijalankan investor akan mempelajari laporan studi kelayakan bisnis yang telah dibuat, karena investor memiliki kepentingan langsung tentang keuntungan yang akan diperoleh dan jaminan modal yang akan ditanamkan.

2. Pihak Kreditor
Sebelum memberikan kredit pihak bank perlu mengkaji studi kelayakan bisnis dan mempertimbangkan bonafiditas dan tersedianya agunan yang dimilliki.

3. Pihak Manajemen Perusahaan
Sebagai leader manajemen perusahaan juga memerlukan studi kelayakan bisnis untuk mengetahui dana yang dibutuhkan, berapa yang dialokasikan dari modal sendiri, rencana pendanaan dari investor dan kreditor

4. Pihak Pemerintah dan Masyarakat
Perusahaan yang akan berdiri harus memperhatikan kebijakan-kebijakan yang ditetapkan
oleh pemerintah agar dapat diprioritaskan untuk dibantu oleh pemerintah.

5. Bagi Tujuan Pembangunan Ekonomi
Penyusunan studi kelayakan bisnis perlu dianalisis manfaat yang akan didapat dan biaya yang ditimbulkan proyek terhadap perekonomian nasional, karena sedapat mungkin proyek dibuat demi tercapainya tujuan-tujuan nasional.
Etika dalam Studi Kelayakan Bisnis.
Aspek moral serta etika dalam bisnis, khususnya dalam studi kelayakan bisnis menjadi hal yang sangat penting. Perilaku etis mengacu kepada norma-norma atau standar-standar moral pribadi dalam hubungannya dengan orang lain agar dapat terjamin keharmonisan dan tidak ada seorang pun yang akan dirugikan.
1. Etika peneliti pada responden.
Dalam pengumpulan data dari para responden , diperlukan serta diingat hak atas kebebasan pribadi sehingga responden tidak akan dirugikan baik secara fisik maupun secara mental.
2. Etika peneliti pada klien.
Dalam suatu studi kelayakan bisnis pertimbangan-pertimabangan etis terhadap klien sangat perlu diperhatikan. Karena klien mempunyai hak atas penelitian yang dilakukan secara etis.
3. Etika peneliti pada asisten.
Peneliti biasanya selalu memilki asisten peneliti , tidak etis jika menugaskan seorang asisten melakukan suatu wawancara yang bisa membahayakan.

4. Etika klien.
terjadinya peneliti kelayakan bisnis diminta oleh kliennya untuk mengubah data, mengartikan data dari segi yang menguntungkan ataupun menghilangkan bagian-bagian dari hasil analisis yang dianggap dapat merugikan, kalau peneliti menuruti keinginan tersebut maka bisa jadi profesi peneliti akan hancur.




References:

    Sebelum memulai suatu bisnis/kewirausahaan, akan lebih baik jika kita mengetahui dan mengerti kebutuhan apa saja yang konsumen perlukan. Teori Hierarki Kebutuhan Maslow adalah teori yang diungkapkan oleh Abraham Maslow.
    Maslow adalah seorang psikolog humanistik. Humanis tidak percaya bahwa manusia yang mendorong dan ditarik oleh kekuatan mekanik, salah satu dari rangsangan dan bala bantuan (behaviorisme) atau impuls naluriah sadar (psikoanalisis). Humanis berfokus pada potensi. Mereka percaya bahwa manusia berusaha untuk tingkat atas kemampuan. Manusia mencari batas-batas kreativitas, tertinggi mencapai kesadaran dan kebijaksanaan. Ini telah diberi label “berfungsi penuh orang”, “kepribadian sehat”, atau sebagai Maslow menyebut tingkat ini, “orang-aktualisasi diri.”
    Menurut Abraham Maslow, manusia memiliki lima tingkat kebutuhan hidup yang akan selalu berusaha untuk dipenuhi sepanjang masa hidupnya. Lima tingkatan yang dapat membedakan setiap manusia dari sisi kesejahteraan hidupnya, teori yang telah resmi di akui dalam dunia psikologi.

    Lima tingkat kebutuhan dasar menurut teori Maslow adalah sebagai berikut (berdasarkan dari yang paling rendah) :
1. Kebutuhan Fisiologis
    Contohnya adalah : Sandang / pakaian, pangan / makanan, papan / rumah, dan kebutuhan biologis seperti buang air besar, buang air kecil, bernafas, dan lain sebagainya.
2. Kebutuhan Keamanan dan Keselamatan
    Contoh seperti : Bebas dari penjajahan, bebas dari ancaman, bebas dari rasa sakit, bebas dari teror, dan semacamnya.
3. Kebutuhan Sosial
    Misalnya adalah : Memiliki teman, memiliki keluarga, kebutuhan cinta dari lawan jenis, dan lain-lain.
4. Kebutuhan Penghargaan
    Dalam kategori ini dibagi menjadi dua jenis, Eksternal dan Internal.
– Sub kategori eksternal meliputi : Pujian, piagam, tanda jasa, hadiah, dan banyak lagi lainnya.
– Sedangkan sub kategori internal sudah lebih tinggi dari eskternal, pribadi tingkat ini tidak memerlukan pujian atau penghargaan dari orang lain untuk merasakan kepuasan dalam hidupnya.
5. Kebutuhan Aktualisasi Diri
    Maslow menganalisis riwayat hidup, karya, dan tulisan sejumlah orang yang dipandangnya telah memenuhi kriteria sebagai pribadi yang beraktualisasi diri. Termasuk dalam daftar ini adalah Albert Einstein, Abraham Lincoln, William James, dan Eleanor Roosevelt.
    Berdasarkan hasil analisis tersebut, Maslow menyusun sejumlah kualifikasi yang mengindikasikan karakteristik pribadi-pribadi yang telah beraktualisasi :
    1. Memusatkan diri pada realitas (reality-centered), yakni melihat sesuatu apa adanya dan mampu melihat persoalan secara jernih, bebas dari bias.
    2. Memusatkan diri pada masalah (problem-centered), yakni melihat persoalan hidup sebagai sesuatu yang perlu dihadapi dan dipecahkan, bukan dihindari.
    3. Spontanitas, menjalani kehidupan secara alami, mampu menjadi diri sendiri serta tidak berpura-pura.
    4. Otonomi pribadi, memiliki rasa puas diri yang tinggi, cenderung menyukai kesendirian dan menikmati hubungan persahabatan dengan sedikit orang namun bersifat mendalam.
    5. Penerimaan terhadap diri dan orang lain. Mereka memberi penilaian tinggi pada individualitas dan keunikan diri sendiri dan orang lain. Dengan kata lain orang-orang yang telah beraktualisasi diri lebih suka menerima anda apa adanya ketimbang berusaha mengubah anda.
    6. Rasa humor yang ‘tidak agresif’ (unhostile). Mereka lebih suka membuat lelucon yang menertawakan diri sendiri atau kondisi manusia secara umum (ironi), ketimbang menjadikan orang lain sebagai bahan lawakan dan ejekan.
    7. Kerendahatian dan menghargai orang lain (humility and respect)
    8. Apresiasi yang segar (freshness of appreciation), yakni melihat sesuatu dengan sudut pandang yang orisinil, berbeda dari kebanyakan orang. Kualitas inilah yang membuat orang-orang yang telah beraktualisasi merupakan pribadi-pribadi yang kreatif dan mampu menciptakan sesuatu yang baru.
    9. Memiliki pengalaman spiritual yang disebut Peak experience.



Sumber:
http://belajarpsikologi.com/teori-hierarki-kebutuhan-maslow/
http://www.praswck.com/aktualisasi-diri-menurut-abraham-maslow
https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_hierarki_kebutuhan_Maslow